Kamis, 20 September 2012

Anatomi Fisiologi Sistem Reproduksi Wanita

-->
Anatomi dan Fisiologi
Sistem Reproduksi Wanita

A.   Sistem Reproduksi Manusia
Reproduksi adalah kemampuan makhluk hidup untuk menghasilkan keturunan yang baru. Tujuannya adalah untuk mempertahankan jenisnya dan melestarikan jenis agar tidak punah. Pada manusia untuk menghasilkan keturunan yang baru diawali dengan peristiwa fertilisasi. Sehingga dengan demikian reproduksi pada manusia dilakukan dengan cara generatif atau seksual.
Untuk dapat mengetahui reproduksi pada manusia, kita harus mengetahui terlebih dahulu organ-organ  kelamin yang terlibat serta proses yang berlangsung di dalamnya.

B.    Organ Reproduksi Wanita
Organ pelvis terletak di bawah, berhubungan dengan rongga abdomen, dibentuk oleh os iski dan os pubis pada sisi samping depan. Os sakrum dan os koksigis membentuk batas belakang dan pinngiran pelvis dibentuk oleh promontorium sakrum di belakang iliopektinal sebelah sisi samping dan depan dari tulang sakrum.

Pintu keluar pelvis (pintu bawah) dilapisi oleh os koksigis di belakang simfisis pubis, di depan lengkung os pubis, os iski, serta ligamentum yang berjalan dari os iski dan os sakrum di setiap sisi, pintu keluar ini membentuk dasar pelvis. Dasar pelvis dibentuk oleh dua berkas otot m.levator ani dan m.koksigis yang bekerja sebagai difragma pelvis.

Perineum merupakan bagian terendah dari badan, berupa sebuah garis yang menyambung kedua tuberositas iski, daerah depan segitiga kongenital dan bagian belakang segitiga anal. Titik tengahnya disebut badan perineum terdiri dari otot fibrus yang kuat di sebelah depan anus.

Di dalam rongga pelvis terdapat kandung kemih dan dua buah ureter yang terletak di belakang simfisis, kolon sigmoid sebelah kiri fosa iliaka, dan rektum terletak di sebelah belakang limfe rongga mengikuti lengkung sakrum. Kelenjar limfe, serabut saraf fleksus lumbosakralis untuk anggota gerak bawah, cabang pembuluh darah arteri iliaka interna dan vena iliaka interna melengkapi isi rongga pelvis. Genitalia pada wanita terpisah dari uretra yang mempunyai saluran tersendiri.
Alat reproduksi pada wanita terbagi menjadi 2 bagian:
1.      Genitalia Eksterna (vulva)
a.     Tundun (Mons veneris)
Bagian yang menonjol meliputi simfisis yang terdiri dari jaringan dan lemak, area ini mulai ditumbuhi bulu (pubis hair) pada masa pubertas. Bagian yang dilapisi lemak, terletak di depan simfisis pubis.

b.     Labia mayora (bibir besar)
Labia mayora adalah lipatan kulit yang menonjol secara longitudinal yang memanjang ke bawah dan ke belakang dari mons pubis dan membentuk batas lateral yang banyak mengandung sel saraf. Kedua bibir ini bertemu di bagian bawah dan membentuk perineum. Bagian luar labia mayora mempunyai pigmen dan ditutupi rambut keriting, yang merupakan kelanjutan dari rambut pada mons veneris. Sedangkan bagian dalam labia mayora tanpa rambut, merupakan selaput yang mengandung kelenjar sebasea (lemak). Ukuran labia mayora pada wanita dewasa panjangnya kira-kira 7- 8 cm, lebar 2 – 3 cm, tebal 1 – 1,5 cm. Pada anak-anak kedua labia mayora sangat berdekatan.

c.     Labia minora (bibir kecil) atau Nimfae
Labia minora adalah lipatan kecil yang terdapat diantara bibir besar (labia mayora), tanpa rambut. Setiap labia minora terdiri dari suatu jaringan tipis yang lembab dan berwarna kemerahan. Labianya mengandung jaringan erektil.

Masing-masing labia minora terbagi menjadi:
1)      Bagian atas: melalui klitoris bergabung dengan yang lain membentuk lipatan yang menggantung pada glans klitoris.
2)      Bagian bawah: melalui bawah klitoris dan membentuk permukaan bawah yang saling berhubungan dinamakan frenolum klitoris.

d.     Klitoris (klentit)
Yaitu sebuah jaringan ikat erektil kecil kira-kira sebesar kacang hijau yang dapat mengeras dan tegang (erektil) yang mengandung urat saraf. Jaringan erektil kecil ini serupa dengan penis laki-laki. Klitoris terdiri atas:
1)      Korvus kavernosus: mengandung jaringan erektil yang ditutupi oleh lapisan padat.
2)      Membran fibrosa: bergabung sepanjang permukaan medial oleh septum pektini formis.

e.     Vestibulum vagina (serambi)
Merupakan rongga yang berada diantara labia minora. Dalam vestibulum terdapat muara-muara dari liang senggama (introitus vagina), uretra, kelenjar Bartholini, dan kelenjar skene kiri dan kanan. Kelenjar bartholini berfungsi untuk mensekresikan cairan mukoid ketika terjadi rangsangan seksual. Kelenjar bartholini juga menghalangi masuknya bakteri Neisseria gonorhoeae maupun bakteri-bakteri patogen.

f.        Himen (selaput dara)
Himen adalah difragma dari membran tipis, di tengahnya berlubang supaya kotoran menstruasi dapat mengalir keluar. Terdiri dari jaringan ikat kolagen dan elastik. Lapisan tipis ini yang menutupi sabagian besar dari liang senggama, di tengahnya berlubang supaya kotoran menstruasi dapat mengalir keluar. Bentuk dari himen dari masing-masing wanita berbeda-beda, ada yang berbentuk seperti bulan sabit, konsistensi ada yang kaku dan ada lunak, lubangnya ada yang seujung jari, ada yang dapat dilalui satu jari. Saat melakukan koitus pertama kali dapat terjadi robekan, biasanya pada bagian posterior. Tidak adanya lubang-lubang pada himen merupakan keadaan abnormal yang jarang terjadi dan disebut himen imperforata.  Keadaan ini tidak dapat diketahui sampai umur menstruasi seorang gadis, karena kotoran tidak dapat keluar, berkumpul di dalam vagina, dan membuat vagina mekar.

g.     Perineum (kerampang)
Terletak di antara vulva dan anus, panjangnya kurang lebih 4 cm. Dibatasi oleh otot-otot muskulus levator ani dan muskulus coccygeal. Otot-otot ini berfungsi untuk menjaga kerja dari sphincter ani.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgjdNBC6L-7rt5rb8_Sixr3TLOa6vdxGvUVYegDNVfVl7rIOdT9LcQ1okng00CtdTWcvYJPlkk63WRM4e4Rv9ySXIUqjlcIrf1maH1qc5HnMREmwoSYwga7nj8p2xxV2zFJsSqUrEptMKc/s640/clip_image002%255B2%255D.jpg

(Organ Genitalia luar)



2.      Genitalia Interna (dalam)
a.     Vagina (liang kemaluan)
Vagina adalah tabung berotot yang dilapisi membran dari jenis epitelium bergaris yang khusus, dialiri pembuluh darah dan serabut saraf secara berlimpah.

Dinding vagina terdiri atas tiga lapis: Lapisan dalam adalah selaput lendir (membran mukosa) yang dilengkapi lipatan-lipatan atau rugae sehingga mempunyai rupa seakan-akan ditutupi papila (selaput lendir vagina terdiri atas sel epitel gepeng berlapis). Lapisan luar adalah lapisan berotot yang terdiri atas serabut longitudinal dan melingkar. Dan antara kedua lapisan ini terdapat sebuah lapisan dan jaringan erektil terdiri atas jaringan areoler, pembuluh darah, dan beberapa serabut otot bergaris.

Vagina terletak antara kandung kemih dan rektum. Panjang bagian depannya sekitar 9 cm dan dinding belakangnya sekitar 11 cm. Sel dinding vagina mengandung banyak glikogen yang menghasilkan asam susu dengan pH 4,5. keasaman vagina memberikan proteksi terhadap infeksi

Bagian serviks yang menonjol ke dalam vagina disebut portio. Portio uteri membagi puncak (ujung) vagina menjadi:
1)      Forniks anterior (lekukan sempit di depan)
2)      Forniks posterior (lekukan sempit di belakang)
3)      Forniks dekstra (lekukan sempit di sisi kanan)
4)      Forniks sinistra (lekukan sempit di sisi kiri)

Fungsi utama vagina:
1)      Saluran untuk mengeluarkan lendir uterus dan darah menstruasi
2)      Alat hubungan seks
3)      Jalan lahir pada waktu persalinan



b.     Uterus (rahim)
Uterus adalah organ tebal, berotot, berbentuk buah pir, terletak di dalam pelvis, antara rektum di belakang dan kandung kemih di depan. Peritoneum menutupi sebagian besar permukaan luar uterus. Ligamentum latum uteri dibentuk oleh dua lapis peritoneum; di setiap sisi uterus terdapat ovarium dan tuba uterina. Panjang uterus adalah 5 sampai 8 sentimeter, dan beratnya 30 sampai 60 gram.

Bagian-bagian dari uterus adalah sebagai berikut:
1)      Fundus uteri (dasar rahim): ditutupi oleh peritoneum, berhubungan dengan fasies vesikalisdan permukaan internalis. Pada bagian atas bermuara tuba uteri yang menembus dinding uterus. Di bawah dan di depan titik pertemuan ini terdapat ligamentum dan di belakangnya terdapat ovarium.
2)      Korpus (badan uterus):di dalamnya terdapat rongga (cavum uteri) yang membuka keluar melalui saluran kanalis servikalis yang terletak pada serviks.Bagian ini merupakan tempat berkembangnya janin.
3)      Serviks uteri: bagian bawah yang sempit pada uterus dan berbentuk silinder.

Dinding uterus terdiri dari:
1)      Endometrium (epitel, kelenjar, jaringan, dan pembuluh darah), merupakan lapisan dalam uterus yang mempunyai arti penting dalam siklus haid. Seorang wanita pada masa reproduksi, pada kehamilan endometrium akan menebal, pembuluh darah bertambah banyak yang diperlukan untuk memberi makanan pada janin.
2)      Miometrium (lapisan otot polos), tersusun sedemikian rupa sehingga dapat mendorong isinya keluar pada waktu persalinan. Sesudah plasenta lahir, akan mengalami pengecilan sampai ke ukuran normal sebelumnya.
3)      Lapisan serosa (peritoneum viseral), terdiri atas ligamentum yang menguatkan uterus yaitu:
-          Ligamentum kardinale kiri dan kanan, mencegah supaya uterus tidak turun.
-          Ligamentum sakrouterinum kiri dan kanan, menahan uterus supaya tidak banyak bergerak.
-          Ligamentum rotundum kiri dan kanan, menahan uterus agar tetap dalam keadaan antefleksi.
-          Ligamentum latum kiri dan kanan, ligamentum yang meliputi tuba.
-          Ligamentum infundibulo pelvikum, ligamen yang menahan tuba falopi.

Uterus berfungsi untuk menahan ovum yang telah dibuahi selama perkembangan. Sebutir ovum sesudah keluar dari ovarium, diantarkan melalui tuba uterina ke uterus. (pembuahan ovum secara normal terjadi di dalam tuba uterina). Endometrium disiapkan untuk penerimaan ovum yang telah dibuahi dan ovum itu sekarang tertanam di dalamnya. Sewaktu hamil, yanang secara normal berlangsung selama kira-kira 40 minggu, uterus bertambah besar, dindingnya menjadi tipis, tetapi lebih kuat dan membesar sampai keluar pelvis masuk ke dalam rongga abdomen pada masa pertumbuhan fetus. Pada waktu melahirkan tiba, uterus berkontraksi secara ritmis dan mendorong bayi dan plasenta keluar kemudian kembali ke ukuran normalnya melalui proses yang dikenal sebagai involusi.

c.     Ovarium (Indung telur)
Merupakan kelenjar berbentuk biji buah kenari terletak kiri dan kanan uterus di bawah tuba uterina dan terikat di sebelah belakang oleh ligamentum latum uterus. Ovarium berisi sejumlah besar sel belum matang yang disebut oosit primer. Setiap oosit dikelilingi sekelompok sel folikel pemberi makanan. Setiap bulan sebuah folikel berkembang dan sebuah ovum dilepaskan pada saat kira-kira pertengahan (hari ke-14) siklus menstruasi. Ovulasi adalah pematangan folikel de graaf dan mengeluarkan ovum. Ketika dilahirkan, wanita memiliki cadangan ovum sebanyak 100.000 buah di dalam ovariumnya, bila habis menopause.

Ovarium yang disebut juga indung telur, mempunyai 3 fungsi:
a. Memproduksi ovum
b. Memproduksi hormon estrogen
c. Memproduksi progesteron

Memasuki pubertas yaitu sekitar usia 13-16 tahun dimulai pertumbuhan folikel primordial ovarium yang mengeluarkan hormon estrogen. Estrogen merupakan hormon terpenting pada wanita. Pengeluaran hormon ini menumbuhkan tanda seks sekunder pada wanita seperti pembesaran payudara, pertumbuhan rambut pubis, pertumbuhan rambut ketiak, dan akhirnya terjadi pengeluaran darah menstruasi pertama yang disebut menarche.

Awal-awal menstruasi sering tidak teratur karena folikel graaf belum melepaskan ovum yang disebut ovulasi. Hal ini terjadi karena memberikan kesempatan pada estrogen untuk menumbuhkan tanda-tanda seks sekunder. Pada usia 17-18 tahun menstruasi sudah teratur dengan interval 28-30 hari yang berlangsung kurang lebih 2-3 hari disertai dengan ovulasi, sebagai kematangan organ reproduksi wanita.

d.     Tuba fallopii (Tuba uterina)
Tuba uterina atau saluran telur, berjalan di sebelah kiri dan sebelah kanan, dari sudut atas uterus ke samping di tepi atas ligamen lebar ke arah sisi pelvis. Panjangnya kira-kira 10 cm dan diameternya antara 3 sampai 8 mm.

Fungsi tuba sangat penting, yaitu untuk menangkap ovum yang di lepaskan saat ovulasi, sebagai saluran dari spermatozoa ovum dan hasil konsepsi, tempat terjadinya konsepsi, dan tempat pertumbuhan dan perkembangan hasil konsepsi sampai mencapai bentuk blastula yang siap melakukan implantasi.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjEq5ydWHhGyaqHhJ1eHqLb3pL5kIUjwgh_9PkIjb-hhTzdeSMiPRy5b8iN7kLIKp_F8vCpe1dvxM2QAA9Wn8DGsvEVx6CxQYsOU4KRlEmXhyphenhyphenT3X_YNGfB3c8iXvzcOOrJyHwKbWynPA0Y/s1600/app.jpg
(Organ genitalia dalam)


C.   Kelenjar Mamae
Kelenjar mamae atau payudara (buah dada) adalah pelengkapan pada organ reproduksi wanita dan mengeluarkan air susu (pada laki-laki kelenjar ini rudimenter). Buah dada terletak di dalam fasia superfisialis di daerah pektoral antara sternum dan aksila dan melebar kira-kira dari iga kedua atau ketiga sampai iga keenam atau iga ketujuh. Berat dan ukuran buah dada berlain-lainan (pada masa pubertas membesar dan bertambah besar selama hamil dan sesudah melahirkan, dan menjadi atrofik pada usia lanjut.

Bentuk buah dada cembung ke depan dengan puting di tengahnya, yang terdiri atas kulit dan jaringan erektil dan berwarna tua. Puting ini dilingkari daerah berwarna cokelat yang disebut areola. Dekat dasar puting terdapat kelenjar sebaseus, yaitu kelenjar Montgomery, yang mengeluarkan zat lemak supaya puting tetap lemas. Puting berlubang-lubang 15 sampai 20 buah, yang merupakan saluran dari kelenjar susu.

Pembuluh darah mamae berasal dari arteria interna dan arteri torakalis lateralis (artery thoracica lateralis). Vena superfisialis mamae mempunyai banyak anastomosis bermuara ke vena mammaria  interna dan vena torakalis interna (vena thoracica interna/epigastrika), sebagian besar bermuara ke vena torakalis lateralis (vena thoracica lateralis).

D.   Pubertas dan Menarke (Menarche)
Pubertas adalah dimulainya kehidupan seksual dewasa, sedangkan menarke (menarche) adalah periode dimulainya menstruasi. Periode pubertas terjadi karena kenaikan sekresi hormon gonadotropin oleh hipofisis yang dimulai pada tahun ke-8 dari kehidupan dan mencapai puncak pada saat terjadi menstruasi pada usia 11-16 tahun.
              
Pada wanita kelenjar hipofisis dan ovarium akan mampu menjalankan fungsi penuh apabila dirangsang secara tepat. Timbulnya pubertas dirangsang oleh beberapa proses pematangan dan berlangsung di daerah otak yaitu hipotalamus dan sistem limbik, ditandai dengan hal-hal berikut:
1)        Peningkatan sekresi estrogen pada pubertas
2)        Variasi siklus seksual bulanan
3)        Peningkatan sekresi estrogen lebih lanjut selama beberapa tahun pertama dari kehidupan seksual
4)        Terjadinya penurunan progresif dari sekresi estrogen menjelang akhir kehidupan seksual
5)        Hampir tidak ada sekresi estrogen dan progesteron sesudah menopause

E.    Hormon wanita
Pada wanita terdapat releasing factor (RF) yang dikeluarkan dari hipothalamus ke hipofisis yang merangsang pengeluaran, Follicle stimulating hormone  (FSH) dan luteinzing hormone (LH), keduanya dikeluarkan dari hipofisis anterior.
1)        Hormon estrogen. Disekresi oleh sel-sel trache intravolikel ovarium, korpus latum dan plasenta, sebagian kecil oleh korteks adrenal. Estrogen mempermudah pertumbuhan folikel ovarium dan meningkatkan tuba uterina dan jumlah otot uterus dan kadar protein kontraktil uterus. Estrogen mempengaruhi organ endokrin dengan menurunkan sekresi FSH, dalam beberapa keadaan menghambat sekresi LH dan pada keadaan lain meningkatkan LH.
2)        Hormon progesteron. Hormon ini dihasilkan oleh korpus luteurh dan plasenta, yang bertanggung jawab atas perubahan endometrium dan perubahan siklik dalam serviks dan vagina. Progesteron juga memiliki pengaruh anti-estrogenik pada sel-sel miometrium, yang menurunkan kepekaan otot tersebut. Sensitivitas miometrium terhadap oksitosin dan aktifitas listrik spontan, miometrium sementara meningkatkan potensial membran serta bertanggung jawab meningkatkan suhu basal tubuh pada saat ovulasi.
Efek progesteron terhadap tuba falopii meningkatkan sekresi dan mukosa, pada kelenjar mamae meningkatkan perkembangan lobulus dan alveolus kelenjar mamae, keseimbangan elektrolit, peningkatan sekresi air dan natrium.
3)        Follicle stimulating hormone (FSH). Mulai ditemukan pada gadis umur 11 tahun dan jumlahnyaterus-menerus bertambah sampai dewasa. FSH dibentuk oleh lobus anterior kelenjar hipofise. Pembentukan FSH ini akan berkurang pada pembentukan/pemberian estrogen dalam jumlah yang cukup, suatu keadaan yang terjadi pada kehamilan.
4)        Luteinzing hormone (LH). LH bekerja sama dengan FSH menyebabkan terjadinya sekresi estrogen dari folikel de Graaf. LH juga menyebabkan penimbunan substansi dari progesteron dalam sel granulosa. Bila estrogen dibentuk dalam jumlah yang cukup besar akan menyebabkan pengurangan produksi FSH sedangkan produksi LH bertambah hingga tercapai suatu rasio produksi FSH dan LH dapat merangsang terjadinya ovulasi.
5)        Prolaktin (luteotropin, LTH). Hormon ini ditemukan pada wanita yang mengalami menstruasi, terbanyak pada urin wanita hamil, maka laktasi dan menopause dibentuk oleh sel alfa (asidofil) dan lobus anterior kelenjar hipofise.
Fungsi hormon ini adalah mempertahankan produksi progesteron dari korpus luteum kelenjar hipofise, dirangsang dan diatur oleh pusat yang lebih tinggi hipothalamus untuk menghasilkan gonodotropbin releasing factor.

Rabu, 19 September 2012

Anatomi Fisiologi Sistem Auditorius


BAB II
PEMBAHASAN

  1. Definisi Indra Pendengaran
Telinga merupakan indra mekanoreseptor karena memberikan respon terhadap getaran mekanik gelombang suara yang terdapat di udara. Telinga menerima gelombang suara yang frekuensinya berbeda,saraf yang berperan dalam indra pendengar adalah saraf kranial kedelapan atau nervus auditorius. Telinga terdiri atas tiga bagian, yaitu telinga bagian luar, telinga bagian tengah, dan  telinga bagian dalam.

  1. Anatomi Telinga
Telinga terdiri atas 3 bagian:













1.      Telinga luar (Auris eksterna)
Telinga luar terdiri atas aurikel atau pinna, meatus auditorius eksterna, dan membran timpani.
a.       Aurikel atau pinna tersusun oleh kartilago (tulang rawan) dan jaringan fibrus, kecuali pada ujung paling bawah (cuping telinga) tersusun oleh lemak. Aurikel berfungsi membantu pengumpulan gelombang suara.
b.      Meatus auditoris eksterna (liang telinga) merupakan saluran penghubung aurikel dengan membran timpani. Panjangnya ± 2,5 cm, terdiri dari tulang rawan dan tulang keras. Saluran ini mengandung rambut, kelenjar sebasea dan kelenjar keringat, khususnya menghasilkan sekret berbentuk serum.
c.       Membran timpani atau gendang telinga menghubungkan meatus auditorius eksterna dengan rongga timpani. Membran ini berukuran ± 1 cm dan berwarna kelabu mutiara.
2.      Telinga tengah (Auris media)
Telinga tengah atau rongga timpani adalah bilik kecil yang mengandung udara. Rongga itu terletak sebelah dalam membran timpani. Pada bagian ini terdapat Tuba Eustakhius dan tulang-tulang pendengaran.
a.       Tuba Eustakhius
Tuba Eustakhius bergerak ke depan dari rongga telinga tengah menuju nasofaring. Celah tuba eustakhius akan tertutup jika dalam keadaan biasa, dan akan terbuka setiap kali kita menelan. Dengan demikian tekanan udara dalam ruang timpani dipertahankan tetap seimbang dengan tekanan udara di atmosfer, sehingga cedera atau ketulian akibat tidak seimbangnya tekanan udara dapat dihindarkan. Adanya hubungan dengan nasofaring ini memungkinkan infeksi pada hidung atau tenggorokan dapat menjalar masuk ke dalam rongga telinga tengah.
b.      Tulang-tulang pendengaran
Tulang-tulang pendengaran adalah tiga tulang kecil yang tersusun pada rongga telinga tengah seperti rantai yang bersambung dari membran timpani menuju rongga telinga dalam.
Tulang sebelah luar adalah maleus, berbentuk seperti martil dengan gagang yang terkait pada membran timpani, sementara kepalanya menjulur ke dalam ruang timpani.
Tulang yang berada di tengah adalah inkus atau landasan, sisi luarnya bersendi dengan maleus, sementara sisi dalamnya bersendi dengan sisi dalam sebuah tulang kecil, yaitu stapes.
Stapes atau tulang sanggurdi dikaitkan dengan inkus dengan ujungnya yang lebih kecil, sementara dasarnya yang bulat panjang terkait pada membran yang menutup fenestra vestibule atau tingkap jorong. Rangkaian tulang-tulang ini berfungsi mengalirkan getaran suara dari gendang telinga menuju rongga telinga dalam.
3.      Telinga dalam (Auris interna)
Rongga telinga dalam itu terdiri atas berbagai rongga yang menyerupai saluran-saluran dalam tulang temporalis. Rongga-rongga itu disebut labirin tulang dan dilapisi membran sehingga membentuk labirin membranosa. Saluran-saluran bermembran ini mengandung cairan dan ujung-ujung akhir saraf pendengaran dan keseimbangan.
a.       Labirin tulang terdiri atas tiga bagian:
Ø  Vestibula yang merupakan bagian tengah, dan tempat bersambungnya bagian-bagian yang lain, ibarat sebuah pintu yang menuju ruang tengah (vestibula) pada sebuah rumah.
Ø  Kanalis semisirkularis (saluran setengah lingkaran) bersambung dengan vestibula. Kanalis semisirkularis merupakan saluran setengah lingkaran yang terdiri dari tiga saluran. Saluran satu dengan yang lainnya membentuk sudut 900, saluran tersebut yaitu kanalis semisirkularis superior, kanalis semisirkularis posterior, dan kanalis semisirkularis lateralis. Saluran lateralis letaknya horizontal, sementara ketiga-tiganya saling membuat sudut tegak lurus.  Pada salah satu ujung setiap saluran terdapat penebalan yang disebut ampula. Gerakan cairan yang merangsang ujung-ujung akhir saraf khusus dalam ampula menyebabkan kita sadar akan kedudukan kita. Bagian telinga dalam ini berfungsi membantu serebelum dalam mengendalikan keseimbangan, serta kesadaran akan kedudukan tubuh kita
Ø  Koklea adalah sebuah tabung berbentuk spiral yang membelit dirinya seperti sebuah rumah siput. Belitan-belitan itu melingkari sebuah sumbu berbentuk kerucut yang memiliki bagian tengah dari tulang, dan disebut modiulus.
Ada dua tingkap dalam ruang melingkar (koklea), yaitu:
·         Fenestra vestibule (tingkap jorong) disebut juga fenestra ovalis, karena bentuknya yang bulat panjang. Ditutupi oleh tulang stapes.
·         Fenestra koklea disebut juga fenestra rotunda, karena bentuknya yang bulat ditutupi oleh sebuah membran.
Kedua-duanya menghadap ke telinga dalam. Adanya tingkap-tingkap ini dalam labirin tulang bertujuan agar getaran dapat dialihkan dari rongga telinga tengah, guna dilangsungkan dalam perilimfa. Getaran dalam perilimfa dialihkan menuju endolimfa, dan dengan demikian merangsang ujung-ujung akhir saraf pendengaran. Endolimfa adalah cairan dalam labirin membranosa, sementara perilimfa adalah cairan di luar labirin membranosa dan dalam labirin tulang. Jika terjadi ketidakseimbangan antara endolimfa dan perilimfa, maka akan menimbulkan kelainan.
b.      Labirin membranosa terdiri dari:
Ø  Utrikulus, bentuknya seperti kantong lonjong dan agak gepeng terpaut pada tempatnya oleh jaringan ikat. Di sini terdapat saraf nervus akustuikus pada bagian depan dan sampingnya ada daerah yang lonjong disebut makula akustika utrikulo. Pada dinding belakang utrikulus ada muara dari duktus semisirkularis dan pada dinding depannya ada tabung halus disebut utrikulosa sirkularis, saluran yang menghubungkan utrikulus dengan sakulus.





Description: D:\2012_03_18\IMG_0010.jpg








Gambar telinga dalam atau labirin

Ø  Sakulus bentuknya agak lonjong lebih kecil dari utrikulus, terletak pada bagian depan dan bawah dari vestibulum dan terpaut erat oleh jaringan ikat, tempat terdapat nervus akustikus.
Pada bagian depan sakulus ditemukan serabut-serabut halus cabang nervus akustikus yang berakhir pada makula akustika sakuli. Pada permukaan bawah sakulus ada duktus reunion yang menghubungkan sakulus dengan duktus koklearis. Di bagian sudut sakulus vestibularis menuju permukaaan bagian bawah tulang temporalis dan berakhir sebagai kantong buntu disebut sakus endolimfatikus, yang terletak tepat di lapisan otak duramater.
Ø  Duktus semisirkularis. Ada tiga cabang selaput semisirkularis yang berjalan dalam kanalis semisirkularis (superior, posterior, dan lateralis). Penampangnya kira-kira sepertiga penampang kanalis semisirkularis. Bagian duktus yang melebar disebut ampula selaput. Setiap ampula mengandung satu celah sulkus ampularis yang merupakan tempat masuknya cabang ampula nervus  akustikus, sebelah dalam ada krista ampularis yang terlihat menonjol ke dalam yang menerima ujung-ujung saraf.
Ø  Duktus koklearis, merupakan saluran yang bentuknya agak segitiga seolah-olah membuat batas pada koklea timpani. Atap duktus koklearis terdapat membran vestibularis pada alasnya terdapat membran basilaris. Duktus koklearis mulai dari kantong buntu (seikum vestibular) dan berakhir tepat di seberang kanalis lamina spiralis pada kantong buntu (seikum ampulare). Pada membran basilaris ditemukan organ korti sepanjang duktus koklearis yang merupakan hearing sense organ.

  1. Saraf Pendengaran
Saraf yang melayani indra pendengaran ini adalah saraf cranial kedelapan atau nervus auditorius. Saraf pendengaran ini terdiri dari dua bagian:
1.      Saraf vestibular rongga telinga dalam yang mempunyai hubungan dengan keseimbangan. Serabut-serabut saraf ini bergerak menuju nukleus vestibularis yang berada pada titik pertemuan antara pons dan medula oblongata, lantas kemudian bergerak terus menuju serebelum.
2.      Saraf koklearis pada nervus auditorius adalah saraf pendengar yang sebenarnya. Serabut sarafnya mula-mula dipancarkan kepada sebuah nukleus khusus yang berada tepat di belakang thalamus, lantas dari sana dipancarkan lagi menuju pusat penerima akhir dalam korteks otak yang terletak pada bagian bawah lobus temporalis.
Cedera pada saraf koklearis akan berakibat ketulian saraf, sementara cedera pada saraf vestibularis akan berakibat vertigo, ataksia, dan nistagmus.

  1. Pendengaran
Suara ditimbulkan akibat getaran atmosfer yang dikenal sebagai gelombang suara, yang kecepatan dan volumenya berbeda-beda. Gelombang suara bergerak melalui rongga telinga luar yang menyebabkan membran timpani bergetar. Getaran ini diteruskan oleh rangkaian tulang pendengaran dalam telinga tengah ke perlimfa dalam vestibulum hingga menimbulkan gelombang tekanan dalam perlimfa dan pergerakan cairan dalam skala vestibular dan skala timpani. Membran timpani pada tingkap bulat bergerak bebas sebagai katup pengaman dalam pergerakan cairan ini, yang juga menggerakkan duktus koklearis dan membran basilarisnya. Membran basilaris pada basis koklea peka terhadap bunyi berfrekuensi tinggi, sedangkan bunyi berfrekuensi rendah lebih diterima pada bagian lain dari duktus koklearis. Setelah mencapai ujung-ujung akhir saraf dalam organ corti kemudian diantarkan menuju otak oleh nervus auditorius. Suara merambat dengan kecepatan 343 meter per detik dalam udara tenang, pada suhu 15,50C.

  1. Penghantaran Suara
Suara dihasilkan oleh benda bergetar dalam medium fisik (udara, air, dan benda padat), tidak dapat didengar melalui hampa udara.

Telinga menerima gelombang suara dengan membedakan frekuensinya dan mengubah gelombang suara dari luar menjadi potensial aksi dalam nervus koklearis. Gelombang diubah oleh gendang telinga (membran timpani) dan tulang-tulang pendengar menjadi gerakan papan kaki stapes. Gerakan ini menimbulkan gelombang pada cairan telinga dalam (cairan koklea). Gelombang pada organ korti menimbulkan potensial aksi pada serabut-serabut saraf sebagai respons yang ditimbulkan oleh gelombang suara.

Sebagai respons yang ditimbulkan, gelombang suara pada membran timpani bergerak ke dalam sebagai suatu resonator yang menghasilkan getaran dari sumber suara. Gerakan diteruskan pada manubrium maleus, berayun pada poros melalui batas antara saluran panjang dan pendek lalu meneruskan getaran dari manubrium ke inklus  lalu dihantarkan ke stapes.

Mengubah resonasi (intensifikasi suara) yang menghasilkan getaran dari membran timpani menjadi geakan stapes untuk mengarahkan skala vestibuli koklea yang terisi dengan perlimfa. Sistem ini dinamakan tekanan suara yang sampai pada jendela lonjong. Hasil kerja dari maleus dan inkus memperbesar gaya 1,3 kali dari luas membran timpani, jauh lebih besar dari luas papan kaki stapes, pemborosan energi suara karena resistensi 60% dari energi suara yang telah sampai pada membran timpani berhasil dihantarkan ke cairan dalam koklea.
1. Refleks gendang
Apabila otot telinga tengah (Membran tensor timpani dan membran stapedium) berkontraksi, menarik manubrium malleus ke dalam dan papan kaki stapes keluar. Suara yang keras menimbulkan refleks kontraksi otot yang dinamakan refleks gendang. Refleks gendang  ini berfungsi untuk melindungi dan mencegah gelombang suara keras yang dapat menyebabkan perangsangan yang berlebihan pada reseptor pendengar. Akan tetapi, watu reaksi untuk refleks adalah 40-160 ms sehigga refleks tidak melindungi dari rangsangan yang sangat singkat seperti suara tembakan.
2. Penghantaran tulang dan udara
Telinga dalam yaitu koklea tertanam pada kavitas (cekungan tulang) dalam os temporalis yang disebut labirin tulang, getaran seluruh tulang tengkorak dapat menyebabkan getaran cairan pada koklea itu sendiri. Oleh karena itu pada kondisi yang memungkinkan garpu tala atau penggetar elektronik diletakkan pada setiap prortuberonsia tulang tengkorank dan proseus mastoideus sehingga telinga dapat mendengar getaran suara.
a. Penghantaran gelombang suara ke cairan telinga dalam melalui membran timpani dan tulang tulang pendengar yang dinamakan penghantar tulang teliga tengah.
b. Gelombang suara menimbulkan getaran pada membran timpani sekunder yang menutup jendella bundar (penghantaran udara).
c. Penghantaran tulang transminsi getaran dari tulang-tulang tengkorak ke cairan telinga dalam.
3. Gelombang jalan
Papan kaki  stapes menimbulkan serangkaian gelombang berjalan pada perlimfa dalam skala vestibuli. Apabila gelombang bergerak ke arah koklea, tinggi gelombang meningkat sampai maksimum dan kemudian menurun dengan cepat. Jarak dari stapes sampai ketinggian maksimum berubah-ubah tergantung pada frekuensi getaran. Gelombang suara nada tinggi akan menimbulkan gelombang yang mencapai tinggi maksimum dekat pada basisi koklea, sedangkan suara nada rendah menimbulkan gelombang memuncak dekat dengan apeks dinding. Tulang dari skala vestibuli menjadi kaku, tetapi membran ini fleksibel. Membran basilaris tidak dalam keadaan tegang dan dapat dilakukan ke dalam skala timpani oleh puncak gelombang dalam skala vestibuli.

  1. Kemampuan Dengar
Telinga manusia dapat mendengar frekuensi 20-20.000 Hz. Ambang dengar suara (kepekaan) tidak sama dengan frekuensi. Kepekaan tertiggi adalah 1-4 Khz, anjing dapat mendengar suara 50 Khz, sedangkan kelalawar dapat mendengar suara ultra di atas 20 Khz.

Kekerasan suara ditentukan oleh sistem pendengaran melalui tiga cara :
1. Ketika suara menadi keras, amplitudo getaran membran basilaris dan sel rambut juga meningkat sehingga sel-sel rambut meneksitasi ujung saraf dengan lebih cepat.
2. Ketika getaran amplitudo getaran meningkat, penigkatan ini menyebabkan semakin banyaknya sel rambut di atas lingkaran pinggir bagian membran basilaris menjadi terangsang bukan melalui beberapa saraf.
3. Sel rambut sebelah luar tidak terangsang secara bermakna sampai getaran basilaris mencapai intensitas yang tinggi kemudian stimuasi sel-sel ini menggambarkan pada sistem saraf bahwa suara itu sangat keras.

  1. Pusat Pendengaran dan Hubungannya
Pusat pendengaran teletak di otak, jarasanya sangat rumit dan belum banyak diketahui. Neuron auditorik primer mempunyai badan sel di ganglia spiral yang berlokasi di koklea. Akson sentral dari neuron bipolar ini setelah keluar dari koklea akan bergabung engan serabut dari organ vestibul utuk membentuk saraf VII (nervus auditorius) dan masuk ke medulla. Serabut auditorik berakhir di nuklei koklea, dari stasiun ini terjadi beberapa koneksi dengan pusat saraf di otak.
    1. Pusat auditorik medular, berfungsi mencari sumber bunyi, refleks pendengar mengatur otak telinga tengah jika tba-tiba mendengar suatu alarm.
    2. Pusat midbrain, kolikus inferior dan formasio artikularis mengatur refleks pendengar yang berkaitan dengan gerak kepala dan mata guna mencari sumber bunyi, masuk auditorik ke formasi retikular dan mempunyai pengaruh besar terhadap kewaspadaan, perhatian, dan terjaganya seseorang.
    3. Korikular inferior, proyeksi bunyi lebih atas dari persepsi suara yang dipancarkan ke nuklei genikulata medial dari thalamus karena adanya penyilangan, maka proyeksi auditorik bersifat bilateral dengan proyeksi kontralateral yang lebih intensif.

  1. Potensial Aksi dalam Serabut Pendengaran
Frekuensi potensial aksi dalam serabut pendengar sebanding dengan kekerasan bunyi. Pada intensibitas bunyi yang rendah, tiap akson melepaskan listrik terhadap bunyi hanya 1 frekuensi. Frekuensi ini bervariasi dari akson ke akson, bergantung pada bagian koklea tempat asal serabut.

Pada intensitas bunyi yang lebih tinggi, akson tersendiri melepaskan listrik terhadap spektrum frekuensi bunyi yang lebih lebar. Khusus terhadap frekuensi yang lebih rendah daripada frekueensi saat timbul rangsangan ambang area respons, tiap gelombangnya menyerupai bentuk bentuk gelombang yang berjalan di dalam koklea.

Penentuan tinggi nada yang diterima bila suatu gelombang bunyi membentur telinga berada didalam korti yang dirangsang maksimum. Gelombang berjalan yang dibentuk oleh suatu nada menghasilkan cekungan puncak pada lamina basilaris, akibatnya rangsangan reseptor maksimum pada suatu titik.

Jarak antara titik ini dengan stapes berhubungan terbalik dengan tinggi nada bunyi. Nada rendah menghasilkan rangsangan maksimum pada basisi koklea.

Bila frekuensi cukup rendah, maka serabut saraf mulai berespons dengan suatu impuls terhadap tiap siklus gelombang bunyi. Walaupun tinggi nada satu suara tergantung pada frekuensi gelombang bunyi, kekerasan juga memainkan sebagian nada rendah di bawah 500 Hz tampak lebih rendah dan nada tinggi di atas 4000 Hz tampak lebih tinggi karena kekerasannya meningkat kecuali berlangsung lebih dai 0,01 detik. Bila terlalu lama 0,1 detik, tinggi nada akan meningkat karena lamanya juga meningkat.

  1. Keseimbangan
Nervus vestibularis yang tersebar hingga kanalis semisirkularis, menghantarkan impuls-impuls menuju otak. Impuls-impuls ini dibangkitkan dalam kanal-kanal tadi, karena adanya perubahan kedudukan cairan dalam kanal atau saluran itu. Hal ini mempunyai hubungan erat dengan kesadaran kedudukan kepala terhadap badan. Apabila seseorang didorong sekonyong-konyong ke arah satu sisi, maka kepala orang itu cenderung akan miring ke arah yang lain guna mempertahankan keseimbangan. Berat badan diatur, posisi berdiri dipertahankan, dan jatuhnya badan dapat dipertahankan. Perubahan kedudukan cairan dalam saluran semisirkularis inilah yang merangsang impuls, yang segera dijawab badan berupa gerak refleks, guna memindahkan berat badan serta mempertahankan keseimbangan.

  1. Fungsi Apparatus vestibularis
Apparatus vestibularis mempunyai dua komponen yaitu kanalis semi sirkularis dan utikulus serta sakulus. Jika terjadi kerusakan pada utrikulus sakulus akan membuat keseimbangan hilang pada posisi badan atas bawah, sedangkan jika terdapat kerusakan pada kanalis semisirkularis akan mengganggu gerakan berbalik (ekuilibrium dinamik).

Berikut beberapa fungsi apparatus vestibularis :
1. Deteksi akselerasi linier oleh organ makular
Sakulus (kantung kecil) dan utrikus (tas kecil) adalah tonjolan kecil pada dinding telinga dalam dan masig-masing berisi makula (organ makula) yang terendam dalam endolimfa, setiap makula merupakan organ reseptor tranduksi mekanoelektrik berisi sel rambut.

Setiap sel rambut terdiri atas beberapa stereosilia di apeksnya dan satu kinosilia (filament protoplasma), dikelilingi membran otolitik yang berisi Kristal kalsium karbonat kecil (panjang 1-19 mikron) yang disebut otolit (batu telinga).

Jika kepala bergerak (percepatan) linier ke jurusan manapun, macula bergerak bersamanya, tetapi otolit lebih pekat dari cairan di sekitarnya sehingga ketinggalan bergerak dan stereosilia mengalami distorsi (menyimpang bayangan) sehingga menghasilkan potensial reseptor daam sel rambut. Potensial ini secara sinapatik memicu aksi potensial serabut saraf vestibular yang kemudian dikirim ke otak.

Orirentasi sakulus dan utrikulus sedemikian rupa sehingga makula memberi informasi pada otak tentang perubahan gerakan linier kepala dan badan, sebagai konsekuensinya aktivasi makular terjadi, terutama saat awal (akselerasi) dan akhir (deselerasi) gerakan, jadi dalam mobil yang bergerak atau elevator, kita merasakan gerakan pada saat awal dan akhir.
2. Deteksi akselerasi rotasional
Kanalis semi sirkularis dari apparatus vestibuli berperan dalam gerak rotasi. Tiga kanal yang berisi cairan terletak tegak satu sama lain. Oleh karena itu, gerak rotasi kepala ke jurusan manapun akan merangsang setidaknya salah satu kanal.

Di setiap ujung masing-masing kanal terdapat organ indra transduksi mekano elektrik, yang disebut ampulla. Seperti makula, setiap ampula berisi sel rambut dengan struktur silia yang sama, dikelilingi lapisan gelatin yang disebut kupula (cangkir kecil=cup kecil). Kapula menyilang lumen kanal ke dinding kanal lainnya.

Akselerasi rotasi gerakan kepala menggerakkan kanalis semisirkularis, mengubah pelekatan kupula ke jurusan sama, tetapi cairan endolimfa tertinggal. Oleh karena adanya inersia, perbedaan gerakan cairan akan mendistorsi stereosilia, membuat potensial reseptor dalam sel rambut. Potensial reseptor memicu seranbut saraf vestibular. Potensial aksi (impuls saraf) akan memberikan informasi pusat vestibular otak tentang gerak rotasi tertentu.

  1. Fungsi Komponen Utama Telinga
Berikut fungsi komponen utama telinga yang di tuliskan dalam tabel :
Struktur
Letak
Fungsi
Telinga luar
Samping kiri kanan di bawah temporal.
Mengumpulkan dan memindahkan gelombang suara ke telinga tengah.
Pinna (daun telinga)
Lempeng tulang rawan yang terbungkus kulit dan terletak di kedua sisi kepala.
Mengumpulkan gelombang suara ke memban timpani mengandung rambut-rambut penyaring dan menyekresikan kotoran telnga untu menangkap partikel-partikel asing.
Meatus auditorius ekternus (liang telinga)
Saluran dari ekterior melalui tuang temporalis ke membran timpani.
Bergetar secara sinkron dengan gelombang suara yangmengenainya menyebabkan tulang-tulang pendengaran telinga tengah bergetar.
Telinga tegah
Rangkaian tulang yang dapat bergerak yang berjalan melintasi rongga telinga tegah,maleus melekat ke membran timpani dan stapes melekat pada jendela oval.
Memindahkan getaran membran timpani ke cairan di koklea,dalam prosesnya memperkuat energi suara.
Maleus, inkus, stapes
Membran tipis di pintu masuk koklea,memisahkan telinga tengah dengan skala vestibuli
Bersilia secara sinkron dengan getaran membran timpani,serta menimbulkangetaran seperti gelombang di perlimfa koklea dengan frekuensi yang sama.
Telinga dalam: koklea
Kompartemen atas koklea dan kompartemen bawah koklea.
Tempat sistem sensorik untuk mendengar
Jendela oval
Kompartemen tengah koklea.
Bergetar bersama dengan getaran stpes yang melekat padanya. Gerakan jendela oval menyebabkan perlimfa koklea bergerak.
Skala vestibuli, skala timpani
Membentuk lantai duktus koklearis.
Mengandung perlimfa yang dibuat bergerak oleh gerakan jendela oval yang didorang oleh getaran tulang-tulang telinga tengah.
Duktus koklearis (skala media)
Terletak di bagian atas dan di sepanjang membran basilaris.
Memgandung endolimfa: tempat membran basilaris.


Membran basilaris
Membran stasioner yang tergantung di atas organ korti dan tempat sel-sel rambut reseptor permukaan tertanam di dalamnya.
Mengandung endolimfe: tempat membran basilaris.

Mengandung sel rambut, reseptor untuk suara, yang mengeluarkan potensial reseptor sewaktu terbekuk akibat cairan di koklea.
Organ korti
Membran tipis yang memisahkan skala timpani dari telinga tengah.
Tempat rambut sel-sel reseptor tertanam di dalamnya menekuk dan membentuk potensial reseptor ketika membrane basilaris bergetar terhadap membran tektorial yang stasioner.

Membran tectorial
Tiga saluran semisirkuler yang tersusun tiga dimensi dalam bidang-bidang yang tegak lurus satu sama lain di dekat  korteks jauh di dalam tulang temporalis.
Bergerak bersama dengan getaran cairan di perilimfe untuk meredam tekanan di dalam koklea, tidak berperan di dalam penerimaan suara.
Jendela bundar
Struktur seperti kantong rongga antara koklea dan kanalis semisirkularis.
Tempat sistem sensoris untuk keseimbangan dan memberikan masukan yang penting untuk mempertahankan postur dan keseimbangan.
Telinga dalam (aparatus vestibularis)
Terletak disamping utrikulus
Mendeteksi: akselarasi (percepatan) deselarasi (perlambatan) rotasional atau angular.
Kanalis semi sirkularis

Mendeteksi: 1) perubahan posisi kepala menjauhi sumbu vertikal,
2) mengarahkan akselarasi dan deselerasi linear secara horizontal.
Utrikulus


Sakulus

Mendeteksi: 1) perubahan posisi kepala menjauhi sumbu horizontal, 2) mengarahkan akselarasi dan deselerasi linear secara vertikal.

  1. Gangguan Indra Pendengaran
1.    Ketulian
Ketulian yaitu gangguan hantaran bunyi di dalam telinga luar atau telinga tengah (tuli hantar) atau kerusakan sel rambut jaras saraf (tuli saraf). Penyebab tuli hantar adalah sumbatan meatus auditorius eksternus oleh serumen atau benda asing, perusakan ossikula auditus, penebalan membran timpani setelah infeksi telinga tengah berulang, dan kekuatan abnormal perlengketan stapes ke foramen ovale.
a.    Tuli saraf disebabkan oleh degenerasi toksin sel rambut yang dihasilkan oleh streptomyssin dan gentamyssin yang terkonsentrasi dalam endolimfa.
b.    Kerusakan sel rambut luar, oleh antibiotik atau pemaparan yang lama terhadap kebisingan disertai dengan ketulian, sebab lain mencakup tumor nervus vestibullo  koklearis dan angulus dan serebellopontin, serta keerusakan vascular di dalam medulla oblongata.
c.       Tuli hantaran saraf, dapat dibedakan oleh sejumlah tes sederhana dengan garpu tala. Test webber dan schwabach memperlihatkan efek penutupan penting dalam bising lingkungan terhadap ambang pendengaran .
Description: D:\2012_03_18\IMG_0008.jpg








2.    Vertigo
Vertigo adalah gejala klasik yang dialami ketika disfungsi yang cukup cepat dan asimetris sistem vestibular perifer (telinga dalam). Vertigo merupakan gangguan keseimbangan, berupa perasaan berputar-putar. Serangan vertigo cukup terganggu bahkan yang bersangkutaan seringkali sampai jatuh, disertai mual, muntah dan nistagmus.
3.    Ataksia
Kegagalan koordinasi muskuler dan dapat terjadi pada pasien dengan penyakit vestibular.